Wajah Lama Pemain Baru, Perang Lama Rasa Baru



Tahun 2019 akan dilaksanakannya pesta rakyat terbesar  di Indonesia atau biasa juga disebut dengan pesta demokrasi, pesta tahu 2019 nanti bukanlah sembarangan pesta karena beda dengan pesta yang sebelumnya.  Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa pesta demokrasi tahun 2014, 2009, dst, terpisah antara pemilihan wakil rakyat yang akan menduduki kursi empuk diluar namun panas didalam dengan pemilihan presiden RI dan wakil presiden RI.

Ditahun 2019 pesta demokrasi ini suhunya akan naik 360o, hal ini disebabkan oleh PilPres yang berbarengan dengan Pemilihan umum Legeslatif. Kali ini tentusaja yang lebih menonjol dan menarik perhatian adalah PilPres, karena PilPres adalah memilih sosok pemimpin baru Negeri ini, pemimpin yang akan menahkodai Negeri ini 5(lima) tahun kedepan.
PilPres 2019 nanti kemungkinan besar akan muncul dua sosok tokoh bangsa yang nama dan wajahnya sudah tak asing lagi bagi masyarakat Indonesia, yaitu sosok Joko Widodo atau dikenal dengan sebutan Jokowi dan Prabowo Subianto yg populer dengan panggilan Prabowo. Dua figur ini mempunyai latar belakang yang jauh berbeda.

Jokowi adalah seorang yang berasal dari keluarga sederhana, pria ini lahir ditahun 1961 di kota solo dan menyelesaikan program Strata 1 di UGM. Karir politiknya sangat bagus, pada tahun 2005 ia terpilih menjadi Wali Kota Solo dan pada tahun 2012 ia terpilih menjadi Gubernur Jakarta. Jokowi terpilih jadi Gubernur Jakarta tidak lepas dari dukugan sosok Prabowo, Partai yg Prabowo nahkodai menjadi perahu Jokowi untuk menjadi orang nomor wahid di Ibu Kota Negara. Namun apa yang terjadi di tahun 2014 ?, Jokowi melawan sosok Guru politik ditahun-tahun sebelumnya yaitu Prabowo Subianto. Jokowi dan Prabowo bertarung di PilPres 2014, pertarungan yang sangat dahsyat antara seorang murid dan guru sehingga menarik perhatian semua kalangan rakyat pada masa itu. 2014 Jokowi kembali memperoleh kemenangan dan menjadi Presiden RI  ke 7, entah karena kebruntungan atau nasib baik masih bersama dirinya, yang jelas itu semua sudah ketentuan Sang Maha Pemberi Kuasa.

Kita beralih kepada sosok seorang Prabowo, beliau merupakan tokoh militer yang mempunyai pengaruh kuat di Negeri ini. Prabowo yang lahir pada tahun 1951 dan hidup dalam keluarga yang sangat berkecukupan, hingga dia bisa bersekolah SMA di Luar Negeri  dan masuk AKMIL pada tahun 1970 selesai pada tahun 1974. Prabowo memang militer sejati, banyak jabatan-jabatan penting dalam TNI AD yang pernah disandangnya dan yang paling bergengsi adalah jabatan PANGKOSTRAD. Setelah tidak lagi aktif menjadi seorang anggota militer Prabowo memilih menjadi seorang pengusaha, setelah sukses mengggeluti dunia usaha Prabowo terjun kedunia Politik dan membentuk sebuah Partai Politik yang bernama GERINDRA (Gerakan Indonesia Raya). Partai tersebuta telah mempunyai pengurus disetiap pelosok Negeri hingga partai tersebut bisa memperoleh peringkat ke 3 di pemilu 2014 yang lalu.

Jokowi dan Prabowo kemungkinan besar akan bertarung kembali di PilPres 2019 akan datang, dua sosok ini kembali mengingatkan kita pada pertarungan akbar di PilPres 2014 yang lalu. Dimana Jokowi saat itu masih menjabat sebagai Gubernur Jakarta dan secara mengejutkan maju di PilPres dengan koalisi partai yang jumlahnya sangat kecil, sedangkan Prabowo maju dengan koalisi partai yang jumlahnya sangatlah besar. Dilihat dari jumlah partai yang tergabung dalam koalisi, jelas Prabowo diatas angin dibandingkan Jokowi, namun apa yang terjadi,  koalisi kecil itu menang melawan koalisi besar nan raksasa.

Tahun 2019 nanti keadaan koalisi partai dalam hal dukungan berbanding terbalik dengan suasana 2014, sebagian partai pendukung Prabowo ditahun 2014 lalu telah menyatakan sikap mengusung dan mendukung Jokowi ditahun 2019 akan datang. Partai yang akan mengusung dan mendung Jokowi ditahun 2019 nanti diantaranya, PDIP, NasDem, GOLKAR, HANURA, PPP, PERINDO, dan PSI. Sementara yang sudah pasti saat ini mengusung dan mendukung Prabowo adalah Partai GERINDRA dan PKS.

Tersisa 3 partai lama yang mempunyai kursi di DPR RI yang belum menyatakan sikap secara resmi yaitu PAN, DEMOKRAT dan PKB. Isu adanya poros ketiga dari 3 partai ini sepertinya sudah terbantahkan dengan pemberian sinyal Partai DEMOKRAT yang disampaikan oleh SBY diwaktu RAPIMPAS DEMOKRAT pada 10 maret 2018 lalu. Sinyal-sinyal DEMOKRAT akan bergabung dgn koalisi Jokowi diperhelatan 2019 nanti sudah sangat kuat.


Dengan demikian maka dua sosok lama akan bertarung kembali di PilPres 2019 akan datang  yaitu Jokowi dan Prabowo, walaupun sosok lama namun 2019 akan ada rasa baru yang disebabkan dengan adanya koalisi baru dan Cawapres yang baru diantara keduanya.
Akankah pemenangnya seperti kejadian 2014 yang lalu, dimana koalisi ParPol dengan jumlah kecil bisa mengalahkan koalisi ParPol dengan jumlah yang sangat besar..?
atau Koalisi ParPol dengan jumlah besar akan tetap bertahan menjadi pemenang PilPres..

Berlangganan update artikel terbaru via email:

3 Responses to "Wajah Lama Pemain Baru, Perang Lama Rasa Baru"

  1. Hahahaha gak komsisten. Seharus mereka belajar bersikap konsisten kayak Indo Mie. Walaupun berbeda kemasan tapi tetap rasa kaldu berpuluh-puluhan tahun.
    Hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. mungkin mereka ingin rasa baru dengan orang-orang baru yang lebih menggoda dan aduhai. he,,he,

      Hapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel